Pakaian
Mengenai pakaian ada satu kasus sebenarnya
yaitu banyak sekali orang yang sesuka hatinya saja dalam mengenakannya. Mereka
bisa memakai pakaian yang disukainya sampai kotor ataupun kusam, hilang
warnanya bahkan sobek pun masih mereka kenakan. Dan itu ialah contoh yang
sangat-sangat buruk khususnya dalam dunia fashion. Selain itu seperti yang kita
sudah bahas sebelumnya bahwa dalam berpakaian itu ada sebuah aturan yang harus
kita jalani sesuai fungsi awal dibuatnya pakaian yaitu untuk menutupi aurat dan
menjaga kesehatan buat kita dan jika kita melihat kasus di atas berarti banyak
sekali ya yang bukan saja membuat contoh yang buruk bagi dunia fashion tapi
juga mereka telah melanggar aturan yang di tetapkan oleh Allah SWT.
Saya pernah melihat, teman saya
sendiri sebenarnya, ketika dia hendak masuk ke ruangan kelas kampus dalam
keadaan mengenakan kaos oblong,celana pendek boxer dan sendal jepit karena
kehujanan sehingga almamater dan celana
panjang bahkan sepatunya ditinggalkan di motornya dan karena itulah dia
langsung di tegor bahkan langsung di usir oleh dosen.
Masih tentang pakaian juga pada
saat itu ada tetangga saya yang akan membeli mobil sebenarnya cuman dengan
mengenakan pakaian lusuh, kotor, dekil karena memang dia bekerja sebagai mandor
bangunan dan dia tidak mengganti pakaiannya terlebih dahulu sehingga ketika
sampai di dieler ia disangka gembel dan di usir oleh karyawan showroom padahal
dia membawa uang banyak untuk membeli mobil di showroom itu.
Nah dalam beberapa kasus di atas
sangatlah penting bukan dalam menjaga dan menjalankan aturan-aturan dalam
berpakaian itu. Para pakar fashion juga pernah mayakini bahwa pakaian itu dapat
mengekspresikan pribadi seseorang. Pakaian rapi seseorang yang kita kenakan
mencerminkan diri sebagai pribadi yang rapi dalam bekerja bahkan hidupnya pun
pasti rapi. Ada juga yang menilai pakaian itu symbol prestise sosial, tak heran
kalau brand atau merek ternama kini menjadi ikon masyarakat bahkan tak perduli
harga nya mahal sekalipun.
Pakaian dinas juga dianggap
sebagai symbol otoritas dalam masyarakat, seperti kata Erich Fromm bahwa “Otoritas
yang nyata ataupun dianggap nyata dialihkan pada pakaian dinas..meski pakaian
tsb tidak selalu mewakili kualitas kompetensi seseorang.
Pakaian lazim dijadikan symbol
otoritas, prestise sosial, dan identitas seseorang. Kita mungkin orang yang
respect fashion, memberi perhatian ekstra pada pakaian yang kita ataupun anda
semua kenakan.
Sebuah nasihat bijak mengatakan agar
kita tidak menilai orang lain berdasarkan pakaiannya. Di mata Allah kita itu
sama, entah mengenakan pakaian bermerek, seragam tentara, ataupun kaos oblong.
Kita semua diperlakukan istimewa oleh Allah, tidak dibedakan berdasarkan
pakaian yang kita kenakan, mungkin memang
benar pakaian itu bisa merepresentasikan seseorang itu kaya atau miskin, bos
atau jongos, tetapi tidak benar jika kita hanya mengasihi yang berpakaian
indah, hanya menghormati yang berpakaian dinas. Jangan seperti itu ya.... jangan
sampai kita menghakimi ataupun sampai memuliakan seseorang cukuplah Allah yang
kita muliakan apalagi hanya karena pakaian yang mereka kenakan.kita ini hidup
sama-sama nebeng, numpang sama Allah jangan sampai karena pakaian saja kita
menjadi memuliakan makhluk.naudzubillah...
